Queue

Tgl 22 Agustus kemarin saya, kakak, ponakan dan beberapa kerabat serta bebrbarengan dengan teman-teman saya mencoba mengikuti pembuatan E-KTP. Sebenarnya undangan sudah samapai di rumah pada bulan Juli lalu, tetapi karena kami berada di luar kota, alhasil kami mengikuti pembuatan e-ktp tersebut secara susualan. Pembuatan yang berlangsung di kantor Kecamatan Punggelan, Kab. Banjarnegara tersebut berlangsung sangat amat ramai. Dihadiri oleh beberapa warga desa di kecamatan kami, menjadikan suasana antrian yang sangat ramai.

Ratusan antrian meramaikan suasana pembuatan e-ktp di Kantor Kecamatan yang berada di desa Ribug, Punggelan. Yah…ramai hiruk pikuk warga dan panas. Sangat lengkap rasanya nikmat lebaran dengan menguras kesabaran dan tenaga hanya untuk menunggu E-KTP. Kami yang datang pada jam 07.40 a.m. merasa sangat lelah untuk menunggu sampai jam 03.00 p.m. Tanpa pemberitahuan yang jelas dari pihak petugas Kantor Kecamatan. Alhasil seharian menunggu kami belum berhasil membuat E-KTP tersebut. Sebenernya dongkol banget, gak jelas rules nya dan kami menunggu dengan perasaan yang jengkel. serasa kami ini bodoh membuang waktu seharian dengan keputusan yang tidak jelas.

Hari berikutnya kami datang kembali dengan harapan bisa terselesaikan hari itu juga, mengingat ini antrian hari ke-dua yang kami ikuti. dan lagi, kami menjumpai pelayanan yang serba aneh, bukannya kita tidakmenghormati kinerja mereka para petugas Kantor Kecamatan. Tapi bayangin aja, masa manggil-manggil partisipan pembuat E-KTP tanpa menggunakan pengeras suara (Microphone) tempat menunggu yang disediakan juga tidak memadai sesuai dengan undangan yang ada. Saya pribadi memaklumi atas kondisi kantor yang pas dan kondisi fasilitas umumnya juga memang tidak sebagus di kota-kota besar. Hanya saja menyayangkan, pastinya alur pembuatan Kartu Pengenal ini harusnya direncakan secara matang dan dilaksanakan sebaik mungkin. Masa iya si, dana anggaran Kecamatan tidak menyediakan hal-hal yang menjadi kebutuhan untuk acara tersebut. ( X___X semoga saja generasi berikutnya mampu memperbaiki sistem yang sdg berjalan sekarang ini *tambah pelatihannya lagi)

Hal lain yang cukup membuatku geram adalah,adanya beberapa adegan yang menyebalkan dimana petugas menerima beberapa lembar un dangan secara tiba-tiba, tanpa membuat mereka yang baru datang dan memberikan “sesuatu” yang spesial untuk mengikuti antrian layaknya wargayang lain. Haaaaagh sangat menyebalkan untuk beberapa”orang khusus” tersebut beserta petugas nakal yang andil. Bagi saya yang usianya masih muda tidak masalah menunggu lama karena memang harus mengikuti waktu giliran. Sedangkan yang membuat saya kesal adalah seharusnya orang-orang tersebut memikirkan bagaimana nasib para orang tua atau sepuh, dan ibu-ibu yang membawaserta anak kecilnya bahkan balita ikut menunggu berhari-hari untuk antrian. Sangat tragis menurutku, parahnya petugas kecamatan yang bersangkutan menanggapi dengan biasa-biasa saja dan tetap memberikan pelayanan khusus untuk orang-orang tertentu dengan cara yang salah.

Setelah penantian hari ke dua akhirnya kami bisamenyelesaikan pembuatan E-KTP. Sangat tidak profesional, Masa mengantri danmenunggu memakan waktu 2 hari dan waktu pembuatan adalag hanya sekitar 2-3 menit. Yang perlu di perbaiki sebenarnya hanya sistem dan pelayanannya. Sangat disayangkan jika hanya mementingkan kepentingan orang-orang tertentu, padahal tugas utama para petugas bagiku sudah sangat mulia untuk melayani dan membantu warga.

Semoga saja Desa tempat saya lahir dan besar ini bisa jadi tempat yang kelak maju, semakin cerdas, bisa mengayomi dan melayani masyarakat dengan baik, semakin berprestasi dan bisa mencerminkan desa dengan masyarakat yang baik dan patut ditiru pelayanan dan keasrian desa kami ini.