Buat yang udah dewasa pasti tidak terlalu asing dengan istilah ” threesome”. Bagaimana dengan “swinger”? Sebenarnya gak terlalu aneh juga kan?. Jika di definisikan, swinger adalah hubungan seks antara pria dan wanita yang dilakukan oleh beberapa pasangan dan dilakukan secara bersamaan/group-yang kemudian saling tukar pasangan atau partner seks-nya dalam grup tersebut. Atau bisa dibahasakan sebagai aktivitas seks tukar pasangan ( suami atau istri).

Swinger biasanya dilakukan oleh pasangan suami-istri atau bahkan pasangan kekasih yang sekedar mencari warna dan sensasi dalam bercinta. Swinger tidak selalu dilaukan oleh mereka yang berusia 30-an lebih, dan ini menjadi bukti bahwa swinger sudah menjadi aktivitas yang mulai di lirik oleh mereka yang berusia 20-an. Ditambah lagi mereka yang berusia lebih muda dipandang lebih kuat, liar, berani, nakal,menggoda dan pastinya mempunyai pemikiran yang lebih terbuka. Para pelaku swinger tersebut juga bukanlah para Pekerja Seks Komersial ataupun gigolo, karena mereka melakukan aktivitas tersebut secara hati-hati dan lebih berkelas.

Swinger bukan hal baru dalam dunia seks. Dalam sejarah dunia berabad-abad lalu sudah ditemukan berbagai literatur penggambaran aktivitas saling bertukar pasangan seks. Di Eropa contohnya, sampai sejauh ini tercatat ada ribuan klub yang masih aktif. Bagaimana di Indonesia??

Di Indonesia ternyata juga ada looh. Kabarnya siih di beberapa kota metropolis negeri ini ada klub-klub swinger. Untuk tahun tepatnya kapan dimulainya aktivitas “berbagi dan bertukar pasangan seks”. Contohnya yang ada di ibu kota negeri ini, kebanyakan mereka para pelaku swinger saling bertemu dalam sebuah cafe atau club, jika pada pertemuan tersebut mereka merasa cocok maka mereka melanjutkan kegiatan swinger mereka dalam sebuah penginapan atau hotel. Terdengar sangat simple dan mudah.OMG!! Gak tanggung-tanggung para pelaku swinger ini bahkan melakukan advertising melalui beberapa media iklan.

Dari beberapa kasus yang ter-blow-up, mereka para pasangan yang melakoni aktivitas swinger ini berawal dari sebuah ide iseng mereka mengikuti dari hasil browsing di online dan dari mulut ke mulut. Menemukan forum-forum para penggiat swinger, yang kemudian mereka menjadi bagian dari komunitas atau klub tersebut.

Keikutsertaan mereka pada klub swinger ini tentunya tidak dilakukan sepihak, aktivitas tersebut berdasar kesepakatan dari masing-masing pasangan atau suami-istri yang memang benar-benar tertarik dan mau melakukannya. Bahkan bertukar pasangan seks dengan partner dari pasangan lain. Hal gila yang mereka mainkan bahkan dijadikan sebuah aktivitas yang berbeda dari pasangan biasanya, ya…bertukar. Apalagi aktivitas swinger dilakukan dalam kamar yang sama dan sensasi “main bersama” ini seolah menjadi pemicu pasangan satusama lain untuk mendapatkan sensasi berbeda dalam melakukan aktivitas seks. Tidak cukup bertukar partner, biasanya mereka menghendaki lebih dari sekedar swinger atau threesome.

Para penggiat swinger mengaku bahwa mereka menemukan sensasi yang berbeda dengan kepuasan tersendiri. Dan pastinya para pelaku swinger ini juga memahami betul permainan yang mereka lakukan. Tidak hanya di ibu kota saja, kita bisa menemukan di kota-kota besar di negeri ini. Tetapi untuk di Indonesia aktivitas swinger ini  belum bisa disebut sebagai lifestyle, dimana belum pernah ada penelitian dengan hasil yang benar.

Kebanyakan para pelaku swinger adalah mereka yang merupakan pasangan dengan hidup mapan. Dan menjadikan swinger bukan sebagai aktivitas komersil dimana mereka melakukannya untuk mencari kepuasan seks semata.

Bagi bangsa kita ini,swinger dipandang sebagai bukti kemerosotan moral dan pasti melanggar norma-norma dalam nilai kehidupan masyarakat kita. Akan tetapi dalam pandangan lain swinger sebagai cerminan trend urban untuk mereka masyarakat perkotaan. Ditambah dengan sikap hedonis, egosentris dan acuh dalam keseharian dan pola pikir mereka swinger tetap saja bukan menjadi aktivitas yang diperbolehkan dan tidak benar.

Apapun sebutan untuk aktivitas swinger, perlu kita kembalikan kepada setiap individu. Akankah mementingkan kepuasan sesaat dan ego, ataukah kembali pada nilai-nilai bangsa yang luhur dengan memahami konsekuensi dan tujuan dari perilaku kita.